Berita

Rumah Kayu Ramah Lingkungan Karya Sekretaris BMPTTSSI Raih Penghargaan Best Greenship Innovation

Rumah Kayu Ramah Lingkungan Karya Sekretaris BMPTTSSI Raih Penghargaan Best Greenship Innovation

Paviliun CLT Nusantara, sebuah bangunan kayu ramah lingkungan hasil pengembangan tim riset yang dipimpin oleh Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Sekretaris Badan Musyawarah Pendidikan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia (BMPTTSSI) periode 2023–2027, Prof. Dr. Ali Awaludin, bersama mitra industri, berhasil meraih predikat sebagai salah satu dari tiga penerima Best Greenship Innovation dalam ajang Greenship Awards 2025 yang diselenggarakan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI) pada Jumat (5/12). Penghargaan ini diberikan atas konsep bangunan berbasis kayu rendah emisi yang dinilai memiliki potensi besar sebagai model konstruksi berkelanjutan di masa depan. Capaian tersebut sekaligus menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan teknologi konstruksi kayu yang sebelumnya lebih dikenal di negara-negara maju, serta mencerminkan komitmen UGM dalam mendorong praktik pembangunan berkelanjutan di lingkungan kampus.

Prototipe bangunan ramah lingkungan yang diberi nama Paviliun CLT Nusantara ini berdiri di kawasan Taman Manufaktur Fakultas Teknik UGM dan telah dikunjungi oleh berbagai mitra serta tamu dari lima benua. Bangunan ini merupakan wujud integrasi teknologi kayu modern melalui sistem Cross-Laminated Timber (CLT), pemanfaatan energi surya, serta penerapan teknologi pintar (smart technology) dalam satu kesatuan desain. Sejak diresmikan oleh Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Selo, pada 23 Agustus 2024, paviliun ini menjadi pusat perhatian para peneliti, akademisi, praktisi, hingga tamu internasional. Ali menyampaikan bahwa paviliun tersebut tidak hanya difungsikan sebagai ruang pertemuan atau ruang pamer, tetapi juga sebagai laboratorium terbuka untuk menguji dan mengembangkan berbagai inovasi konstruksi berkelanjutan.

Selain berfungsi sebagai pusat edukasi dan riset, Paviliun CLT Nusantara juga dimanfaatkan sebagai ruang pertemuan strategis bagi organisasi profesi dan akademik di tingkat nasional. Pada 12 Juni 2024, pengurus BMPTTSSI periode 2023–2027 melaksanakan rapat kepengurusan di Paviliun CLT Nusantara. Kegiatan ini menunjukkan bahwa bangunan tersebut tidak hanya menjadi simbol inovasi teknologi hijau, tetapi juga berperan sebagai ruang kolaborasi nasional para pemangku kepentingan di bidang teknik sipil, pendidikan tinggi, dan konstruksi berkelanjutan.

Rapat Kepengurusan BMPTTSSI di Paviliun CLT Nusantara

Lebih lanjut, Ali memaparkan sejumlah keunggulan dan aspek inovatif pada paviliun ini, di antaranya penggunaan kayu akasia lokal sebagai material utama, pemasangan panel surya sebagai sumber energi terbarukan, penerapan sistem pencahayaan pintar, serta integrasi IoT pada area taman yang mendukung prinsip rendah emisi. Pemilihan kayu akasia dilakukan karena karakteristiknya yang cepat tumbuh (fast growing species), memiliki kekuatan struktural yang baik, serta relatif tahan terhadap serangan jamur. Teknologi CLT yang digunakan juga telah disesuaikan melalui proses rekayasa balik (reverse engineering) agar kompatibel dengan karakteristik iklim tropis dan kondisi material di Indonesia. Sistem tersebut berfungsi sebagai komponen pengikat pada susunan kayu akasia yang secara alami berukuran ramping.

Riset ini merupakan hasil kolaborasi antara UGM, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Politeknik Manufaktur (Polman) Bandung. Penelitian tersebut bermula dari eksperimen sederhana menggunakan material kayu akasia yang dikombinasikan dengan metode perakitan dasar, kemudian berkembang menjadi proyek berskala nasional. Meski demikian, Ali menegaskan bahwa Paviliun CLT Nusantara tidak dirancang untuk kebutuhan hunian massal, melainkan sebagai bangunan edukatif dan ruang publik, seperti untuk keperluan sekolah dasar, sekolah menengah, maupun ruang pembelajaran terbuka. Konsep ini ditujukan sebagai sarana pembelajaran agar generasi muda dapat menyaksikan secara langsung bagaimana material ekologis dan konsep keberlanjutan diterapkan dalam dunia konstruksi.

Ali juga menyampaikan bahwa proyek ini sejalan dengan target Indonesia untuk mencapai nol emisi pada tahun 2026, yang salah satunya dapat didukung melalui program reboisasi yang terencana dan pemanfaatan material ramah lingkungan. Secara teknis, bangunan berbasis kayu ini memiliki sejumlah keunggulan, seperti ketahanan terhadap guncangan, kemampuan menyerap dan menyimpan karbon, serta kebutuhan perawatan yang relatif mudah. Ia menjelaskan bahwa bangunan kayu dapat bertahan lama selama dirawat dengan baik, yakni dengan menjaga kondisi material tetap kering, tidak lembab, serta melakukan pelapisan ulang (coating) secara berkala.

Bagi Ali, kehadiran Paviliun CLT Nusantara menjadi simbol kuat kolaborasi antara kalangan akademisi, pemerintah, dan industri dalam mendorong percepatan adopsi teknologi konstruksi hijau di Indonesia. Ia berharap inovasi ini dapat segera diterapkan secara lebih luas di lingkungan UGM serta menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi dan institusi lain di seluruh Indonesia. Ia juga mencontohkan beberapa universitas di luar negeri, seperti University of British Columbia (UBC) di Vancouver dan Nanyang Technological University (NTU) di Singapura, yang telah lebih dahulu mengembangkan bangunan bertingkat berbasis kayu. Keberhasilan Paviliun CLT Nusantara meraih penghargaan Best Greenship Innovation menjadi penanda bahwa peluang menuju masa depan konstruksi hijau di Indonesia semakin terbuka, serta memperkuat potensi Indonesia untuk tampil sebagai salah satu pelopor dalam pengembangan bangunan berkelanjutan di tingkat regional dan global.